Berita 11 Oct 2026 9 Dilihat

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA MISKIN MELALUI HILIRISASI INOVASI AGROFORESTRI KONSERVASI MENUJU DESA PANGAN DAN TANGGUH LONGSOR

Website Resmi Desa Baseh

Desa Baseh adalah salah satu desa di wilayah Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah. Terletak di sebelah barat daya lereng gunung Slamet dengan tipe wilayah perbukitan.

Desa Baseh berada di wilayah perbukitan rawan longsor . Pertanian monokultur di lahan miring tanpa konservasi menyebabkan pendapatan petani rendah dan risiko longsor meningkat. Artikel ini menawarkan model pemberdayaan melalui hilirisasi inovasi agroforestri konservasi.

Agroforestri diterapkan sebagai sistem tanam campuran pohon tahunan, tanaman pangan, dan tanaman bawah tegakan yang berfungsi menahan tanah dan menyediakan pangan sepanjang tahun. Hasil agroforestri kemudian dihilirkan di tingkat desa menjadi produk bernilai tambah seperti gula semut aren, kopi bubuk, tepung mocaf dari singkong dan talas, madu hutan, dan jamu instan empon-empon. Melalui penguatan Kelompok Tani Hutan (KTH), Kelompok Wanita Tani (KWT), dan BUMDes, masyarakat miskin berubah dari penjual bahan mentah menjadi produsen. Model ini terbukti meningkatkan pendapatan rumah tangga, memperkuat ketahanan pangan lokal, memperbaiki tutupan lahan, dan membangun kapasitas desa dalam mitigasi longsor.

Agroforestri konservasi yang dihilirkan menjadi strategi terpadu mewujudkan Desa Pangan dan Desa Tangguh Bencana.

Kata Kunci: pemberdayaan, desa miskin, hilirisasi, agroforestri konservasi, ketahanan pangan, tangguh longsor

1. Pendahuluan

Kemiskinan pedesaan di kawasan perbukitan erat kaitannya dengan kerusakan lingkungan. Lahan miring digarap secara intensif untuk tanaman semusim tanpa terasering, menyebabkan erosi, kesuburan menurun, dan longsor saat musim hujan. Petani miskin hanya menjual hasil kebun dalam bentuk mentah dengan harga murah, sehingga nilai tambah hilang ke luar desa.Padahal, potensi agroforestri sangat besar. Kombinasi aren, kopi, kakao, durian, petai, dan alpukat dengan tanaman pangan seperti singkong, talas, jagung, dan empon-empon dapat menjadi sistem produksi sekaligus sistem konservasi.

Tantangannya, inovasi ini sering berhenti di kebun. Tanpa hilirisasi, petani tetap miskin.Hilirisasi inovasi agroforestri konservasi adalah upaya mengolah hasil kebun dan hutan rakyat menjadi produk olahan di desa sendiri. Inilah jalan untuk membangun desa yang mandiri pangan dan tangguh terhadap longsor.

2. Konsep Model Pemberdayaan

Model ini bekerja dalam tiga tahap terintegrasi:Tahap Hulu: Agroforestri Konservasi Produktif

Diterapkan pola tanam berstrata dengan kaidah konservasi tanah dan air: pembuatan teras gulud, rorak penangkap air, dan penanaman rumput vetiver di bibir teras. Pohon perakaran dalam berfungsi mengikat tanah, tajuk bertingkat melindungi tanah dari hujan, dan tanaman sela menyediakan pangan harian.

Tahap Tengah: Hilirisasi Produk Desa

Dibangun Rumah Produksi yang dikelola BUMDes dan KTH untuk mengolah hasil menjadi:

  1. Pangan pokok alternatif: tepung mocaf, tepung talas, beras jagung
  2. Produk perkebunan: gula semut aren organik, kopi sangrai, cokelat kakao
  3. Produk kesehatan: madu hutan kemasan, jamu instan jahe-kunyit, minyak atsiriProduk dikemas, diberi merek desa, dan disertifikasi P-IRT/Halal.

 

Tahap Hilir: Kelembagaan dan Pasar

Pemasaran dilakukan melalui BUMDes Mart, marketplace, kemitraan dengan toko oleh-oleh dan program pemerintah. Keuntungan dikelola secara transparan untuk dana konservasi dan modal bergulir bagi keluarga miskin.

3. Strategi Pemberdayaan Masyarakat Miskin

  1. Pemberdayaan menyasar petani miskin, perempuan, dan pemuda melalui:
  2. Sekolah Lapang Agroforestri di lahan petani
  3. Pelatihan pengolahan pangan dan manajemen usaha bagi KWT
  4. Pembentukan Kader Siaga Longsor dari pemuda desa untuk pemantauan retakan dan curah hujan
  5. Fasilitasi alat produksi tepat guna dan akses permodalan

Pendekatan partisipatif membuat masyarakat menjadi subjek, bukan objek proyek.

 

4. Dampak Menuju Desa Pangan dan Tangguh Longsor

Desa Pangan: Agroforestri menjamin pangan tersedia 12 bulan. Rumah tangga tidak lagi tergantung beras dari luar karena memiliki cadangan singkong, talas, sukun, dan buah-buahan dari kebun sendiri. Hilirisasi menjadi tepung membuat pangan awet dan bergizi, mendukung pencegahan stunting.

Desa Tangguh Longsor: Vegetasi permanen meningkatkan infiltrasi dan kekuatan geser tanah. Lereng yang semula gundul menjadi sabuk hijau penahan longsor. Kesadaran warga meningkat, peta rawan longsor dibuat bersama, dan sistem peringatan dini berbasis komunitas terbentuk.

Pengentasan Kemiskinan: Nilai ekonomi meningkat drastis. Kopi yang semula dijual gelondongan murah, setelah diolah menjadi bubuk kemasan nilainya naik 5-10 kali lipat. Gula semut dan tepung mocaf menciptakan pendapatan bulanan dan lapangan kerja baru di desa, terutama bagi perempuan.

 

5. Kesimpulan

Sosialisasi Pemberdayaan masyarakat desa miskin melalui hilirisasi inovasi agroforestri konservasi menuju desa pangan dan tangguh longsor yang diselenggarakan di Pendopo Desa Baseh Kecamatan Kedungbanteng pada hari Sabtu tanggal 10 Oktober 2026 mulai jam 09.00 s.d 15.30 WIB yang dilaksanakan oleh Universitas Nahdatul Ulama Purwokerto, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto dengan peserta Kelompok Tani Sri Rahayu Desa Baseh dan Karang Taruna Taruna Karya 9 Desa Baseh Kecamatan Kedungbanteng. Nara sumber acara dari Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kabupaten Banyumas, UNU Purwokerto dan Unsoed Purwokerto.

Hilirisasi inovasi agroforestri konservasi membuktikan bahwa menjaga lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan adalah dua hal yang saling menguatkan. Dengan mengolah hasil konservasi menjadi produk bernilai tinggi, desa miskin di kawasan rawan longsor dapat bertransformasi menjadi Desa Pangan yang berdaulat dan Desa Tangguh Longsor yang mandiri.

Tulis Komentar